Jakarta, PINews.com – Siapa sangka ternyata letusan gunung berapi tidak hanya membawa malapetaka bagi penduduk disekitarnya. Sudah lumrah mungkin bahwa kita mengetahui letusan gunung berapi memuntahkan material yang mampu menyuburkan tanah.
Studi terbaru menyebutkan bahwa gunung berapi yang meletus setidaknya dalam periode 15 tahun terakhir termasuk didalamnya adalah gunung Merapi asal Indonesia membantu menghambat pemanasan global atau mencegah Bumi 'terpanggang' panasnya Matahari.
Dilansir dari berbagai sumber, saat meletus, gunung berapi melontarkan partikel ke atmosfer, menghalangi pancaran cahaya Matahari. Sejumlah ilmuwan meyakini, hal itu mengimbangi efek emisi karbon yang disebabkan aktivitas manusia, setidaknya dalam periode 15 tahun terakhir -- yang menjadi medan tempur pemanasan global.
Ada semacam kekosongan atau jeda (hiatus) dalam pemanasan global sejak 1998. Kesenjangan suhu yang diperkirakan dengan yang aktual membuat sejumlah orang skeptis, bahwa pemanasan global hanya paranoid atau kebohongan belaka.
Mereka berpendapat bahwa model pemanasan global ini melebih-lebihkan efek karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.
Studi yang dimuat dalam jurnal sains Nature Geoscience menawarkan penjelasan untuk mengatasi polemik itu. Dengan menyebut letusan gunung berapi membantu menjelaskan perlambatan kenaikan suhu belakangan ini.
Menggunakan data satelit, para peneliti menemukan kaitan antara suhu permukaan Bumi dan dampak dari letusan gunung api pasca-tahun 2000.
Setidaknya ada 17 gunung berapi yang meletus sejak tahun 2000, termasuk Nabro di Eritrea, Kasatochi di Alaska, dan Merapi di Indonesia. Letusan gunung-gunung itu yang tak seberapa besar besar, diabaikan hingga saat ini oleh para ilmuwan iklim.
Namun, sedikit demi sedikit sulfur yang dimuntahkan gunung-gunung api merefleksikan sinar matahari dan sedikit mendinginkan atmosfer di level yang lebih rendah.
Dampak dari "aerosol" itu menyumbang sebanyak 15 persen dari kesenjangan suhu yang diperkirakan dan aktual antara tahun 1998 dan 2012.
"Kekosongan pemanasan global sejak 1998 memiliki sejumlah penyebab yang berbeda," kata salah satu penulis studi, Ben Santer dari Lawrence Livermore National Laboratory, California seperti dimuat Channel News Asia, Senin (24/2/2014).
"Pendinginan yang disebabkan oleh letusan gunung berapi di awal Abad ke-21 adalah salah satu penyebab."
Sebelumnya letusan dahsyat Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991, secara luas diketahui memiliki efek pendingin permukaan bumi. Sementara, letusan Gunung St Helens pada 1980 menurunkan suhu global hingga 0,1 derajat Celcius.
Sejarah mencatat, letusan Gunung Tambora pada 1815 membuat musim dingin absen pada 1816 -- tahun tanpa musim panas. Kemudian pada 1883, berbulan-bulan setelah letusan Gunung Krakatau, dunia mengalami musim dingin, matahari terbenam dengan kemilau, dan senja berkepanjangan karena penyebaran aerosol di seluruh stratosfer.
Ben Santer mengatakan, manusia beruntung efek letusan gunung berapi menetralkan pemanasan global yang disebabkan ulah penduduk Bumi.
Namun, sifatnya hanya sementara. "Kita tidak tahu bagaimana aktivitas gunung berapi akan berkembang selama beberapa dekade mendatang. Tak tahu berapa lama 'keberuntungan' ini akan terus berlanjut. "
Mengomentari studi ini, Piers Forster, seorang profesor perubahan iklim di University of Leeds, mengatakan gunung berapi memberikan kontribusi terhadap perlambatan pemanasan, tapi tidak bisa dianggap menjadi satu-satunya penyebab .
"Gunung berapi memberi kita jeda sejenak dari tekanan pemanasan tanpa henti seiring peningkatan CO2," tambahnya
- Danrem Dikuasai Kolonel Angkatan 1990-an, Anak Try Sutrisno dan Menantu Luhut Bersaing Jadi Jenderal
- Menyigi Potensi Peraih Adhi Makayasa Polri Beroleh Pangkat Tertinggi
- Kursi Jenderal untuk Jebolan Akademi TNI 1993
- Tahun 2015 Jumlah Pengguna Narkoba di Indonesia Capai 5 juta orang
- Bintang Terang Alumni Akmil 1989
PINews.co, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus menegaskan kom
- Pengembang Panas Bumi Bersatu Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Bencana
- Penyempurnaan Kebijakan Fiskal Hulu Migas Dibutuhkan untuk Mencapai Target Produksi Migas
- Perizinan Kegiatan Usaha Hulu Migas Wajib Disempurnakan
- Forum Manajemen Risiko Pertamina 2025: Pertamina NRE Ubah Risiko Jadi Peluang
