Tim Riset Ekonomi DBS: Nilai Tukar Rupiah Ada Direntang Cukup Stabil
Credit by: DBSInsight.com
Jakarta-PINews. Dalam lima bulan pertama tahun ini, nilai tukar Rupiah terhadap US$ berada dalam rentang yang cukup stabil. Sejak pertengahan Januari tahun ini, nilai tukar Rupiah terhadap US$ ada  di level Rp13237- Rp13422. padahal arus modal asing yang masuk cukup kuat khusus dalam obligasi dan saham Indonesia. Kondisi ini tidak terlepas dari sikap Bank Indonesia yang menaruh perhatian serius pada aspek stabilitas nilai tukar.
 
Hal ini disampaikan tim ekonom DBS Group Research dalam Outlook Mata Uang kuartal III tahun 2017. dalam DBS Asian Insights, tim riset memberikan pandangan terbaru seputar ekonomi di Asia dan Indonesia. Dalam konteks Indonesia, tim Riset juga mencatat beberapa hal selain kondisi nilai tukar rupiah terhadap USD. Mulai dari sisi cadangan devisa dimana dalam empat bulan awal tahun 2017, ada peningkatan dari USD6.9 milyar menjadi USD123.2 milyar . Padahal di tahun 2016 kenaikan cadangan devisa nasional sebesar USD10.4 miliar.
 
Sementara pasar modal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencatat angka tertinggi sejak bulan Maret. Demikian juga pendapatan obligasi 10 tahun pemerintah Indonesia turun menjadi 6.69% pada bulan Mei setelah memuncak di angka 8.32% November lalu.
 
Semua kondisi positif ini telah membuat Standard & Poor’s  pada tanggal 19 Mei dan disusul Moody’s and Fitch memberikan predikat “Investment grade” bagi Indonesia.
 
Meski demikian, Tim Ekonomi DBS juga melihat BI tidak mengendurkan pantauan untuk mengontrol inflasi dan menjaga stabilitas makroekonomi. Inflasi indeks harga konsumen (IHK) naik dari 3.02% YoY menjadi 4.17% dalam periode Desember 2016-April 2017. Hal ini melebihi titik tengah dari proyeksi targetnya pada 3-5%. BI pun telah menganjurkan agar pemerintah melakukan lebih banyak reformasi struktural agar dapat mencapai target pertumbuhan jangka menengahnya di angka 7%.
 
Kondisi Ekonomi Global
 
Tim Riset dalam paparannya juga menjelaskan tentang kondisi ekonomi global. Dalam lima bulan pertama di tahun ini ada perkembangan USD dan EUR yang berkebalikan dari ekspektasi sebagian besar orang. Pertama, patokan indeks DXY (USD) tidak memperpanjang rally pemulihan harga mata uangnya, dan pada sekitar pertengahan bulan Mei mengembalikan seluruh kenaikan pasca-pemilihan presiden AS. Setelah rencana stimulus Trump mulai menyimpang di bulan Maret, pendapatan obligasi 10 tahun AS (US 10-Year bond) menurun dari bagian atas ke bagian bawah rentang target inflasi Bank Sentral AS di angka 2-2.5%.

Kedua, ketakutan bahwa Uni Eropa akan terpecah tidak terjadi setelah hasil pemilihan umum di Belanda dan Perancis menyatakan menolak populisme sayap kanan. Kenyataan ini dibarengi dengan spekulasi terhadap exit strategy Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mengakhiri kebijakan moneter longgarnya membawa EUR/USD kembali berada diatas 1.10 pada pertengahan Mei dari titik terendah tahun lalu di 1.0341.

Spekulasi bahwa ini akan menjadi awal dari tren penurunan USD mungkin masih terlalu dini untuk dipastikan. Beralih arah dari perbedaan obligasi 10 tahun EU-US, pergerakan EUR/USD tampak menanjak dengan terlalu cepat. 

Untuk membatasi timbulnya kejutan pada pertemuan Dewan Pengatur ECB tanggal 8 Juni, di akhir bulan Maret Presiden ECB Mario Draghi telah memberitahukan kepada Parlemen Uni Eropa bahwa kenaikan tingkat suku bunga hanya akan terjadi setelah berakhirnya program pembelian aset yang sudah dijadwalkan pada bulan Desember.

Sementara itu, pasar tampak puas dengan rencana Bank Sentral AS (Fed) untuk menormalisasi kebijakan moneter. Fed secara bertahap menaikkan tingkat suku bunganya setelah Presiden Fed San Francisco John Williams memperkirakan akan terjadi tiga kali kenaikan dalam tahun ini dan empat kenaikan di tahun depan.
 
Dalam proyeksi ekonominya tanggal 15 Maret lalu, the Fed mematok rata-rata perkiraan tingkat suku bunga antarbank (Fed funds rate) di angka 3% pada tahun 2019 dan seterusnya. Setelah kenaikan tingkat suku bunga bulan Maret lalu, para pegawai Fed telah mempersiapkan untuk mulai melonggarkan neracanya akhir tahun ini. The Fed tengah menyusun rencana melampaui informasi subjektif mengenai AS yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
 
Konsensus diantara pembuat kebijakan the Fed setuju dengan Fed New York dan Fed Atlanta bahwa pertumbuhan PDB riil akan mulai meningkat kembali di kuartal ke-2 tahun 2017 setelah kuartal pertama yang mengecewakan. Perkiraan awal untuk ini akan dirilis pada 29 Juli.
 
Dengan pemanfaatan kapasitas AS yang mulai beranjak naik secara signifikan, indikasi hasil perolehan dari Fed Funds Futures yang kadaluarsa pada bulan Desember 2018 tampak terlalu rendah di angka 1.485%. Jika perekonomian AS tidak sungguh mengecewakan, the Fed akan bergerak untuk menarik stimulus dengan lebih cepat dibandingkan ECB.
 
The Fed melihat bahwa kenaikan tingkat suku bunga secara bertahap akan memperpanjang, bukan mempersingkat ekspansi perekonomian AS. Walaupun muncul optimisme akhir-akhir ini akan perbaikan Eurozone, namun ECB melihat bahwa kebijakan menarik stimulus masih terlalu dini dan menerapkan sikap kehatihatian dalam memperpanjang kebijakan moneter longgarnya.  Oleh karena itu, USD kemungkinan akan memberi kejutan yang positif di paruh kedua tahun ini, sebagaimana yang telah dilakukannya selama tiga tahun berturut-turut.
 
 
Stabilitas nilai tukar mata uang kembali ke Asia  di luar Jepang. Tidak ada dampak spill over yang kuat dari melemahnya USD terhadap mata uang utama lainnya bagi negara-negara Asia di luar Jepang (AXJ). Dengan pengecualian MYR, mata uang negara-negara AXJ cukup stabil di bulan April-Mei apabila dibandingkan dengan Q1 2017. Sebagian besar bursa saham tidak mengulang kinerjanya yang kuat di Q1 2017 bahkan dua diantaranya mengalami penurunan pada April-Mei vs nol pada bulan January-Maret.
 
Perkembangan ini sejalan dengan pertumbuhan ekspor, selama 12 bulan terakhir, seiring dengan sebagian besar negara mulai meninggalkan angka pertumbuhan dua digitnya. Lima mata uang AXJ, khususnya yang lebih bergantung pada ekspor, berhasil memulihkan depresiasi yang terjadi akibat Trump dan lainnya. Tidak seperti beberapa tahun sebelumnya, tahun ini volatilitas mata uang turun secara konsisten pada mata uang negara-negara AXJ.
 
Dengan USD yang melunak akibat rencana stimulus Trump yang mulai menyimpang, dan kepuasan terhadap exit strategy dari the Fed, pasangan mata uang USD/AXJ tidak lagi terlihat keluar dari rentang yang telah ditentukan sejak 2015. Dengan banyak pasangan mata uang yang kembali masuk ke dalam paruh bawah dari channel harga, beberapa negara AXJ (contoh: Thailand, India, dan Taiwan) telah mulai memperingatkan untuk menangkal penguatan mata uang berlebih yang dapat membahayakan perekonomian, sementara negara lainnya (contoh: Indonesia) menyebutkan preferensinya akan stabilitas nilai tukar.
 
Dua kejutan pada tahun ini adalah CNY dan MYR. Apresiasi terakhir dari CNY seharusnya tidak dipandang sebagai permulaan tren apresiasi baru. Melainkan, Cina tengah berupaya untuk mencegah spekulasi satu arah (one-way bets), baik ke atas maupun bawah, dalam nilai tukarnya setelah menghabiskan 2-3 tahun terakhir menyesuaikan USD/CNY terhadap kekuatan USD, khususnya terhadap mata uang negara-negara AXJ.
 
Demikian pula halnya dengan USD/MYR yang sedang berkejaran dengan USD yang melemah tahun ini, khususnya setelah 1Malaysia Development Berhad (1MDB) mencapai kesepakatan dengan Abu Dhabi International Petroleum. Bisa dimengerti bahwa dua nilai tukar lainnya – USD/INR dan USD/IDR – terpukul cukup keras saat terjadi Fed taper tantrums tahun 2013 lalu, dan tidak meremehkan niat dari the Fed untuk menormalisasi kebijakan moneternya.
 
Terlepas dari angka bursa sahamnya yang mencapai rekor tertinggi, India dan Indonesia berupaya mencegah kepuasan untuk menjaga stabilitas nilai tukarnya saat ini. Melihat ke depan, kita tidak mengabaikan pemulihan USD di H2 2017 yang bersumber dari pembaruan optimisme ekonomi AS yang mendorong spekulasi kenaikan tingkat suku bunga Fed.
 
Mata uang negara-negara AXJ yang berisiko untuk harus mengembalikan pertumbuhan tahun ini adalah mata uang yang memiliki korelasi kuat dengan DXY, dan mata uang yang telah terapresiasi melampaui tingkat apresiasi pada pemilihan presiden AS bulan November lalu.
Editor: ES