Jakarta, PINews.com - Kementerian Perhubungan mendukung langkah peningkatan kapasitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta yang dilakukan oleh Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau lebih dikenal dengan AirNav Indonesia.
Peningkatan kapasitas pergerakan pesawat di Soekarno-Hatta dibutuhkan mengingat pertumbuhan angkutan udara dan posisi bandara Soekarno-Hatta yang merupakan hub utama penerbangan domestik. "Sejak AirNav beroperasi sampai saat ini, kapasitas pergerakan di Soekarno-Hatta meningkat dan mendukung pertumbuhan angkutan udara. PT Angkasa Pura II (AP2) membangun T3 untuk kapasitas penumpang, sedangkan AirNav meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso di Jakarta, kemarin.
Dia menyampaikan dunia penerbangan nasional tumbuh pesat dalam kurun satu dekade terakhir, sesuai dengan Renstra angka kenaikan terbesar terjadi dari 2016 ke 2017. "Artinya, kebutuhan akan kapasitas penumpang bertambah, untuk itu maka jumlah pesawat dan pergerakan juga otomatis bertambah. Maskapai-maskapai kita terus ekspansi dan membeli banyak pesawat," katanya.
Apalagi, lanjutnya, Bandara Soekarno-Hatta masih menjadi hub utama penerbangan nasional. Karena itu kapasitas penerbangan harus ditingkatkan terus. Dalam kapasitas penumpang di terminal, AP2 sebagai pengelola bandara, membangun Terminal 3 yang megah dan membanggakan. Untuk kapasitas pergerakan pesawat, AirNav bersama AP2 dan maskapai penerbangan juga melakukan peningkatan pergerakan. AirNav melakukan terobosan dengan investasi peralatan, peningkatan prosedur, peningkatan SDM. Sedangkan AP2 melakukan investasi di landasan pacu, seperti penambahan rapid exit taxiway dan rencana pembangunan east cross. “Airline sendiri meningkatkan performansi dari kesigapan pergerakan atau efisiensi waktu,” tuturnya.
AirNav Indonesia tiap tahunnya melakukan peningkatan kapasitas penerbangan di Bandara Soekarno Hatta per jam operasinya. Pada 2012, sebelum AirNav dibentuk, kapasitas bandara Soekarno-Hatta hanya 52 pergerakan per jam. Setahun kemudian, setelah AirNav Iterbentuk kapasitas penerbangan di bandara Soekarno-Hatta meningkat sebanyak 64 pergerakan. Peningkatan tersebut didukung oleh imlementasi procedur SID-STAR RNAV-1 dan pengoprasian tower dual desk (utara-selatan) serta ASMGCS Tahap Pertama. Pada 2013 kapasitas penerbangan kembali meningkat menjadi 68 pergerakan.
Peningkatan pergerakan terjadi pada 2014 menjadi 72 kali. Pada 2016 sudah menjadi 76 pergerakan dan tahun ini untuk menyukseskan program kepariwisataan Airnav meningkatkan kapasitas bandaranya menjadi 81 pergerakan per jam. “Bersama AP2, AirNav bahkan melakukan kerjasama dengan UK NATS pengelola bandara Heathrow di London untuk meningkatkan kapasitas Soekarno-Hatta menuju ke 86 pergerakan per jam,” terang Agus.
Agus juga menegaskan, Airnav sendiri sudah melakukan studi yang memperhitungkan penambahan kapasitas tersebut tidak membahayakan keselamatan penerbangan. "Di Hetahrow aja yang runwaynya seperti Soekarno-Hatta sampai 100 pergerakan per jam. Selama prosedur dan regulasi terpenuhi, keselamatan akan tetap tejaga," katanya.
- Danrem Dikuasai Kolonel Angkatan 1990-an, Anak Try Sutrisno dan Menantu Luhut Bersaing Jadi Jenderal
- Menyigi Potensi Peraih Adhi Makayasa Polri Beroleh Pangkat Tertinggi
- Kursi Jenderal untuk Jebolan Akademi TNI 1993
- Tahun 2015 Jumlah Pengguna Narkoba di Indonesia Capai 5 juta orang
- Bintang Terang Alumni Akmil 1989
PINews.co, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus menegaskan kom
- Pengembang Panas Bumi Bersatu Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Bencana
- Penyempurnaan Kebijakan Fiskal Hulu Migas Dibutuhkan untuk Mencapai Target Produksi Migas
- Perizinan Kegiatan Usaha Hulu Migas Wajib Disempurnakan
- Forum Manajemen Risiko Pertamina 2025: Pertamina NRE Ubah Risiko Jadi Peluang
